Siapkan Mental Sebelum Menikah Dengan Lakukan Hal Ini

3 months ago
Share:
Siapkan Mental Sebelum Menikah Dengan Lakukan Hal Ini

Saat kamu dan pasangan sudah memutuskan untuk menikah, restu dari orang tua pun sudah didapat, maka persiapan pernikahan pun dimulai. Ada begitu banyak yang harus dipersiapkan, seperti venue, gaun dan jas pengantin, tata rias, katering, undangan, dan banyak lagi. 


Akan tetapi ada satu hal yang sering kamu lupakan, yaitu persiapan mental. Sudah siapkah kamu menjalani hari-hari bersama pasanganmu yang kelak akan menjadi suamimu? Sudah siapkah kamu berdua memasuki kehidupan rumah tangga dan menghadapi segala masalah yang mungkin datang? Lalu bagaimana cara mempersiapkan mental agar benar-benar siap menjalani kehidupan setelah pesta pernikahan usai? 



1. Ubah 'saya' menjadi 'kita'

Saat masih hidup bersama orang tua, mungkin tidak masalah bila kamu mementingkan diri sendiri. Terutama karena orang tua cenderung memaafkan ‘keegoisan’ putra putrinya. Tapi saat kamu tinggal bersama pasangan, buang segala sifat egoismu. Mulailah mengubah settingan di kepala dari ‘saya’ menjadi ‘kita’. Mulai libatkan pasangan dalam rencana dan mimpi jangka panjangmu. Jadikan pernikahan sebagai sebuah kemitraan dimana kamu berdua harus menjadi tim yang kompak. Untuk itu, kesampingkan ego serta rasa mementingkan diri sendiri mulai sekarang.


2. Belajar dari pasangan panutan 

Kenal pasangan yang selalu harmonis dan penuh komitmen dalam menjalani pernikahan? Pasangan seperti ini pantas kamu jadikan panutan. Banyak-banyaklah belajar dari mereka. Jangan ragu untuk bertanya tentang bagaimana cara mereka menghadapi perbedaan pendapat atau menyelesaikan pertengkaran, cara menyeimbangkan pekerjaan dan pernikahan, serta perhatikan cara mereka memperlakukan satu sama lain, baik di saat susah maupun senang. Jadikan teladan mereka sebagai panduan dalam membangun rumah tangga yang langgeng dan awet.


3. Ikuti kelas pranikah

Seringkali pasangan calon pengantin enggan mengikuti kelas pranikah karena berfikir tidak perlu. Padahal dengan mengikuti kelas tersebut, wawasan kamu mengenai kehidupan pernikahan akan bertambah. Kamu juga dapat menanyakan hal-hal yang tidak kamu mengerti kepada pembimbing professional atau pemimpin agama. Berbeda dengan meminta saran dari keluarga atau teman, pemimbing kelas seperti ini biasanya lebih netral dan tidak memihak sehingga dapat memberikan opini atau informasi yang obyektif.



4. Mulai merencanakan keuangan

Mengatur keuangan saat kamu masih sendiri dan setelah berkeluarga tentu berbeda. Diskusikan dengan pasangan, pola pengaturan seperti apa yang sesuai untuk kamu berdua. Isu keuangan kerap menjadi penyebab perceraian, karenanya penting bagi pasangan calon pengantin untuk terbuka mengenai hal ini. Diskusikan secara terbuka soal pendapatan, pengeluaran, utang piutang, aset dan investasi yang kamu berdua miliki, bahas juga rencana, impian, dan tujuan jangka panjang kalian. Setelah kamu berdua memahami kondisi keuangan masing-masing, mulailah mengubah kebiasaan dalam mengatur uang menjadi seperti lebih rajin menabung, tidak berbelanja secara impulsif, atau tidak lagi menumpuk tagihan dan utang.


5. Bicara tentang anak

Kamu ingin segera memiliki anak, atau ingin berdua lebih lama terlebih dulu? Bicarakan ini dengan pasangan. Jangan sampai setelah menikah baru ketahuan kalau ternyata keinginan kalian memiliki keinginan yang berbeda tentang anak. 


6. Belajar memaafkan

Bayangkan bila kamu tinggal serumah tapi saling mendiamkan karena marah satu sama lain? Pasti rumah jadi berasa tidak nyaman kan? Karenanya, mulailah berlatih untuk saling memaafkan. Bicarakan apa yang menjadi keberatanmu, tanyakan juga apa yang pasangan tidak sukai dari dirimu. Dengan begitu kami bisa saling belajar untuk hidup bersama tanpa harus ada kebencian di dalamnya.



7. Fleksibel

Setiap orang memiliki mimpi dan ekspektasi mengenai kehidupan rumahtangganya. Tapi ingat, tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini. Selalu ada saja kekurangan baik dari diri sendiri atau dari pasangan yang harus kita tolerir. Berusahalah untuk selalu fleksibel sehingga tidak menjadi stres terhadap tuntutan dan ekspektasi dirimu sendiri. 


8. Bicarakan batasan

Bisa saja kamu dan pasangan memiliki pemikiran, sudut pandang, keinginan dan kebutuhan yang berbeda. Bicarakan hal ini agar tidak menimbulkan masalah atau salah pengertian. Buat Batasan, apa yang boleh dan tidak boleh kalian lakukan. Apakah kamu atau suami masih boleh berkomunikasi dengan mantan? Kapan kamu atau suami boleh menghabiskan waktu bersama para sahabat? Apa yang sebaiknya tidak diceritakan kepada keluarga dan teman? Bicarakan dengan baik dan sepakati batasan yang kalian tentukan bersama.


9. Jadikan pasangan sebagai sahabat

Setiap kali kita menemui masalah, kemana biasanya kita berkeluh kesah? Tentu sahabat menjadi orang pertama yang kita temui kan. Nah, untuk membuat hubungan kalian menjadi lebih erat, jadikanlah istri atau suami sebagai sahabatmu. Tempat berbagi cerita, tempat berkeluh kesah, tempat berbagi impian. Ini akan membuatmu merasa nyaman saat bersama dengannya, tak perlu menjadi orang yang berbeda. Belajar untuk tertawa bersama saat ada hal-hal yang tidak berjalan sesuai keinginan. Ini akan membuat kamu berdua merasa nyaman satu sama lain sehingga hubungan pun akan berjalan dengan lebih mulus.




Photo: @forelsketpicture

Share: